Kamis, 14 November 2013

Media Sosial Sebagai Perahu Dakwah

       
Aneka Media Sosial
  
Layaknya boy dan girl band yang sedang naik daun, media sosial pun juga tak mau ketinggalan untuk menghebohkan masyarakat. Salah satunya adalah Facebook. Kata ini mungkin sudah tidak asing lagi di panca indera kita, anak kecil bahkan sampai kakek nenek pun sudah tahu tentang hebohnya meia sosial satu ini. Banyak orang mengartikan Facebook terdiri dari dua kata, yaitu face=wajah dan book=buku, jika digabung artinya menjadi “wajah buku”. Facebook memang bisa diartikan seperti itu, karena pemiliknya (facebookers) ada yang mencantumkan foto asli sesuai pemiliknya, ada yang foto animasi, bahkan ada juga yang tidak disertai foto. Tapi semua itu tergantung pemiliknya, kan selera orang berbeda.

            Di kalangan remaja, facebook sering digunakan sebagai tempat curhat, menuangkan segala suka cita, keluh kesah, sampai duka cita. Memang tak ada larangan untuk curhat di facebook, akan tetapi kita harus membatasi curhatan kita kepada facebook. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Contahnya, kita menulis status kalau kita sedang kesepian, maka secara langsung ada facebookers lain yang mengomentari untuk mengajak kita berjanjian kemudian kita keluar bersamanya, padahal kita belum kenal tapi kita mau-mau saja. Inilah hal yang harus kita hindari.
            Layaknya perahu, ketika ia akan berlayar kita harus mengecek perahu tersebut dan mempersiapkan semuanya dengan baik. Seperti halnya kita, jika kita berkonsekuen untuk mempunyai facebook kita harus memanfaatkannya dengan baik dan kita harus mempunyai iman yang kuat untuk menghindari bisikan-bisikan syaitan facebook. Ketika perahu mulai berlayar ke sebuah pulau kita harus berhati-hati, karena badai laut yang besar kapan saja bisa menghampiri, maka jika badai itu terjadi ia segera mencari pelabuhan terdekat untuk bersandar sampai akhirnya badai itu reda. Begitu juga dengan kita jika menulis status harus memikirkannya matang-matang. Apakah status yang kita tulis ini baik atau tidak?. Terlebih untuk para remaja harus bisa mengontrol emosi kita, karena dalam masa transisi inilah ujian datang bertubi-tubi untuk diselesaikan satu per satu, bukannya untuk ditambah. Setelah itu, jika status yang kita tulis sudah terlihat baik, benar dan sopan, saatnya kita beranjak untuk melihat komentar dari facebookers yang lain, jika ada status yang kurang berkenan di hati kita jangan sampai kita tanggapi dengan hal negatif, tapi kita harus menanggapinya secara positif, jika keadaan semakin parah, maka jalan satu-satunya adalah segera menghapus sttus kita. Dan kita harus pandai-pandai mengambil sisi positif dari kejadian tersebut.
            Di era globalisasi ini, kita sebagia pecinta media sosial khususnya facebook sudah seharusnya melakukan perubahan. Jika sebagian besar dari kita mengisi facebook kita dengan tulisan keluh kesah dan suka cita, bagaimana jika kita menjadikan facebook sebagai media dakwah? Apakah cocok?. Kita jangan berfikir terlalu panjang untuk melakukan hal yang baik. Krena sudah saatnya kita melakukan perubahan menuju yang lebih baik meskipun itu hanya sebesar partikel debu yang beterbangan. Sebab selama ini dakwah sering dilakukan di masjid, radio, televisi, bahkan face to face. Tapi coba jika kita melakukan gebrakan baru, yaitu berdakwah melalui facebook. Inilah inovasi yang harus kita lakukan, kita harus membuktikan bahwa negara kita yang mayoritas penduduknya islam mempunyai akhlak yang baik dalam berkomunikasi, terlebih di dunia maya. Mulailah dengan menulis sebuah ayat Al-Qur’an atau hadist di dinding facebook kita, serta mengomentari status orang lain dengan nuansa islami tanpa terlihat seperti menggurui. Mungkin dengan cara ini lambat laun media sosial yang sering dianggap miring oleh khalayak akan bisa berubah menjadi media yang baik bagi orang-orang yang haus  akan pendidikan islam. Akan tetapi jangan sampai kita salah menulis ayat Al-Qur’an dan hadist, karena itu akan mengubah rambu-rambu Islam, lebih baik kita pelajari dulu kebenarannya sehingga kita tidak akan salah dalam menyampaikan informasi tersebut.
            Meskipun kita sudah berusaha dengan sebaik mungkin untuk menjadikan mesia sosial sebagai media dakwah, tapi kita harus tetap kritis dan hati-hati terhadap sisi negatifnya. Contohnya, media sosial yang terhubung internet akan memerlukan biaya yang tidak sedikit, selain itu bisa membuang waktu kita. Jadi, kita harus bisa mengatur semuanya sehingga isi kantong kita tidak terkuras dan waktu yang kita miliki bisa terbagi dengan baik, jangan sampai gara-gara facebookan kita jadi lupa makan apalagi lupa shalat. Naudzubillahimindzalik.

            Selain itu, peran orang tua disininjuga berlaku, mereka harus memantau kegiatan anak mereka dalam menjelajah dunia maya dan orang tua harus tahu seluk-beluk dunia maya tersebut, agar bisa mengambil langkah nyata jika anaknya mulai keluar dari jalur yang telah ditentukan, serta perlu diupayakan pemberdayaan dari guru maupun masyarakat untuk diadakan lembaga kontrol yang bisa meberi masukan dan kajian kritis terhadap dampak media sosial yang sedang naik daun ini. Semoga peran orang tua dan masyarakat tetap ada, sehingga pengguna media sosial terutama para remaja negara kita tetap pada jalur yang baik, sehingga bisa mengantar mereka ke tujuan yang baik pula. Layaknya sebuah perahu yang berlayar ke sebuah pulau yang kaya akan hasil alamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar