Ditulis oleh Destiani
Monday, 20 Sya'ban 1433
Hari itu senja emas mulai mengantarkan malam dengan takzim. Adzan
maghrib sejak tadi telah berkumandang meliuk di udara bebas. Semilir angin di
luaran menyapu pori-pori wajah. Sejuk dan teduh aku menikmatinya sambil
mengendarai motor tuaku di Jalan Raden Intan, Bandarlampung, dengan kecepatan
lambat di malam itu. Jauh berbeda dengan kecepatan berkendara yang biasa aku
‘bandrol’. Aku ingin menikmati buah karya Allah berupa indahnya malam. Sambil
mengendarai motorku, aku menatap langit yang tak lagi berpadu kuning emas.
Ada
pijaran-pijaran bintang dengan bahagia menemani malam. Aku menyemaikan senyum
untuk karya agung Allah itu. Subhanallah... ‘Sungguh ini merupakan nikmat Allah
yang tak bisa kukuasai’ batinku bergumam sambil berpikir betapa kecil dan
lemahnya aku. Fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadziban.
Masih tak lepas dengan nikmat Allah. Aku masih ingat betul dengan
kejadian beberapa hari lalu. Tatkala aku selesaikan tilawah juz ke-3, di salah
satu masjid di Bandarlampung, ada seorang anak yang tengah berdoa menengadahkan
tangannya. Lama sekali, penuh kusyuk. Aku tersenyum kagum padanya. Aku jadi
bertanya-tanya, apa yang ia pinta pada Allah? Subhanallah... Lagi-lagi tasbih
terlontar tanpa sadar.
Setelah gadis kecil itu merampungkan doanya, ia segera melipat alat
salat lalu ditaruhnya di rak lemari. Kemudian kembali sesaat dan meraih
tumpukan koran yang diletakkannya tak jauh dari kotak infak. Sejenak ia merogoh
sesuatu di saku celananya. Dengan samar-samar mata minusku menilik, ia
memasukkan uang kertas 2000-an dalam kotak infak. Aku terkesiap. Tiba-tiba ada
bumbungan tanya yang merambat di ubun-ubun kepala. Tanpa berpikir panjang, aku
memanggilnya. Ia menoleh lalu menyungginggkan senyum.
Ria
mengajarkanku arti merenggut mimpi
Ria nama gadis kecil itu. Ia pedagang koran di lampu merah Kedaton,
Bandarlampung. Tanpa rasa malu, ia bercerita hari ini dagangannya tak begitu
laku. Ia juga sempat menahan laparnya hingga sore sebab emak di rumah baru bisa
masak siang tadi setelah upah cuci-gosok harian diterimanya. Aku setengah
tercenung. Jadi teringat makan siangku dengan melahap nasi ayam bakar dan es
jeruk bersama adik tingkat bimbinganku di Universitas Lampung. MasayaAllah...
di tengah nikmat makan yang kukecap, ternyata masih ada jeritan lapar di tengah
jantung Kota Bandarlampung. Hatiku serasa diiris, perih tak tergambarkan. Aku
hanya mampu bergeming dan sesekali menelan ludah seolah merasakan kepahitan
hidupnya.
“Itu pun harus kubagi dengan ibu dan rokok ayah,” tuturnya polos.
“Kakak beli lima yah koranmu?” pintaku sambil merogoh isi tas.
Kutemui ada beberapa lembar uang ribuan. Kuselipi beberapa ribu pula untuknya.
“Buat
apa kakak beli banyak?” tanyanya setengah mengintrogasi.
“Ya buat apa saja,” jawabku asal lalu mengernyitkan kening dan
nyengir kuda.
“Kakak nggak usah kasianin saya. Saya mah udah biasa, kak. Sini,
kakak beri saya uang 2000 aja. Ini korannya,” ia memberikan satu eksemplar lalu
bergegas pergi. Belum hilang pandanganku untuknya di sudut mata, ia menolehku
kembali dan berkata, “Kakak doain saja aja. Saya mau jadi bu guru, kayak Bu
Rita,” tutupnya dan tak lama berlalu dariku. Aku tak menjawab, satu senyuman
kuberikan mengantar kepergiannya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar