Jumat, 15 November 2013

Asaku Melangit - Pemenang Lomba Menulis bulan Juni 2012

Ditulis oleh Destiani 

Monday, 20 Sya'ban 1433


            Hari itu senja emas mulai mengantarkan malam dengan takzim. Adzan maghrib sejak tadi telah berkumandang meliuk di udara bebas. Semilir angin di luaran menyapu pori-pori wajah. Sejuk dan teduh aku menikmatinya sambil mengendarai motor tuaku di Jalan Raden Intan, Bandarlampung, dengan kecepatan lambat di malam itu. Jauh berbeda dengan kecepatan berkendara yang biasa aku ‘bandrol’. Aku ingin menikmati buah karya Allah berupa indahnya malam. Sambil mengendarai motorku, aku menatap langit yang tak lagi berpadu kuning emas.
Ada pijaran-pijaran bintang dengan bahagia menemani malam. Aku menyemaikan senyum untuk karya agung Allah itu. Subhanallah... ‘Sungguh ini merupakan nikmat Allah yang tak bisa kukuasai’ batinku bergumam sambil berpikir betapa kecil dan lemahnya aku. Fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadziban.

            Masih tak lepas dengan nikmat Allah. Aku masih ingat betul dengan kejadian beberapa hari lalu. Tatkala aku selesaikan tilawah juz ke-3, di salah satu masjid di Bandarlampung, ada seorang anak yang tengah berdoa menengadahkan tangannya. Lama sekali, penuh kusyuk. Aku tersenyum kagum padanya. Aku jadi bertanya-tanya, apa yang ia pinta pada Allah? Subhanallah... Lagi-lagi tasbih terlontar tanpa sadar.
            Setelah gadis kecil itu merampungkan doanya, ia segera melipat alat salat lalu ditaruhnya di rak lemari. Kemudian kembali sesaat dan meraih tumpukan koran yang diletakkannya tak jauh dari kotak infak. Sejenak ia merogoh sesuatu di saku celananya. Dengan samar-samar mata minusku menilik, ia memasukkan uang kertas 2000-an dalam kotak infak. Aku terkesiap. Tiba-tiba ada bumbungan tanya yang merambat di ubun-ubun kepala. Tanpa berpikir panjang, aku memanggilnya. Ia menoleh lalu menyungginggkan senyum.  

Ria mengajarkanku arti merenggut mimpi
            Ria nama gadis kecil itu. Ia pedagang koran di lampu merah Kedaton, Bandarlampung. Tanpa rasa malu, ia bercerita hari ini dagangannya tak begitu laku. Ia juga sempat menahan laparnya hingga sore sebab emak di rumah baru bisa masak siang tadi setelah upah cuci-gosok harian diterimanya. Aku setengah tercenung. Jadi teringat makan siangku dengan melahap nasi ayam bakar dan es jeruk bersama adik tingkat bimbinganku di Universitas Lampung. MasayaAllah... di tengah nikmat makan yang kukecap, ternyata masih ada jeritan lapar di tengah jantung Kota Bandarlampung. Hatiku serasa diiris, perih tak tergambarkan. Aku hanya mampu bergeming dan sesekali menelan ludah seolah merasakan kepahitan hidupnya.  
            “Itu pun harus kubagi dengan ibu dan rokok ayah,” tuturnya polos.  
            “Kakak beli lima yah koranmu?” pintaku sambil merogoh isi tas. Kutemui ada beberapa lembar uang ribuan. Kuselipi beberapa ribu pula untuknya.          
            “Buat apa kakak beli banyak?” tanyanya setengah mengintrogasi.
            “Ya buat apa saja,” jawabku asal lalu mengernyitkan kening dan nyengir kuda.
            “Kakak nggak usah kasianin saya. Saya mah udah biasa, kak. Sini, kakak beri saya uang 2000 aja. Ini korannya,” ia memberikan satu eksemplar lalu bergegas pergi. Belum hilang pandanganku untuknya di sudut mata, ia menolehku kembali dan berkata, “Kakak doain saja aja. Saya mau jadi bu guru, kayak Bu Rita,” tutupnya dan tak lama berlalu dariku. Aku tak menjawab, satu senyuman kuberikan mengantar kepergiannya.


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar