Kamis, 14 November 2013

Kala Kawan Terjerat Bisikan Syetan - Cerpen

           “ Bagai bunga mawar berduri yang sedang bermekaran di taman”. Ya, itulah ungkapan untuk masa-masa remaja. Tak hanya masa-masa terindah yang menghiasi namun masa-masa terburuk pun datang tanpa diundang menghampiri kehidupan ini. Dan kini aku pun sudah remaja. Rereta Tytiany, itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku 17 tahun yang lalu. Aku duduk di bangku SMA Mekar Sari, kelas 3. Sekolah ini sangat terkenal di daerahku. Dan aku punya kawan dekat, ia juga duduk sebangku denganku, namanya Dianawati.

            Suatu ketika bulan Ramadhan, Sore hari Diana berkunjung ke rumahku yang berjarak 400 meter dari rumahnya. Ia mengajakku ke mall untuk membeli busana muslim yang akan digunakan saat Pondok Ramadhan minggu depan. Aku pun segera menerima ajakannya. Sesampainya di mall yang ramai oleh pengunjung yang ingin berbelanja atau pun hanya sekedar berekreasi bersama keluarga. Kami  pun langsung menuju ke toko busana muslim yang juga tak kalah ramainya di bulan yang penuh berkah ini. Tulisan diskon pakaian pun terpasang di setiap gantungan pakaian, perlengkapan sholat, dan sebagainya. Diskon diberikan dari 10 %  sampai 40%.
“Kamu mau beli apa saja Din,” tanyaku
“Aku mau sepasang pakaian, yaitu rok dan baju batik,” jawabnya sambil memilih rok yang sesuai dengan keinginannya.
Meskipun aku tak berniat untuk berbelanja busana muslim, tapi aku pun juga ikut melihat-lihat beberapa busana yang di pajang pemilik toko. Setelah satu jam, Diana memanggilku untuk mengajakku ke kasir untuk membayar belanjanya. Setelah melihat apa yang di bawa Diana, aku pun segera membawanya ketempat yang tidak sedikit ramai, tepatnya di pojok  toko.
“Din, katanya mau beli sepasang saja, tapi kok ini banyak sekali,” tanyaku penasaran.
“Hehehe…tak apalah. Kan bulan Ramadhan waktunya untuk berbelanja. Lagi pula ini lagi banyak diskon Re, kan lumayan,” jawabnya.
“Iya. Tapi tidak baik kalau belanja berlebihan seperti ini. Sebab berlebihan itu tidak disukai oleh Allah, terlebih di bulan yang mulia ini. Apa kamu mau kelak hidupmu akan serba kekurangan kalau kamu berbelanja berlebihan seperti ini.Istighfar kawan,”tuturku memberi nasihat.
“Tidak apa-apa. lagi pula Ayah dan Ibuku kan punya gaji yang cukup besar,”tandasnya.
“Memang gaji orang tua kamu cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi siapa yang akan menjamin jika satu jam ke depan akan terjadi perubahan ekonomi di keluargamu? Tak adakan. Coba fikir kembali, Din, Ikuti kata hatimu, jangan nafsu kamu yang tak akan pernah ada habisnya jika kita turuti. Dan hempaskan bisikan syetan yang terngiang-ngiang,” ujarku dengan lemah lembut.
Diana pun menundukkan kepala sejenak. Memikirkan apa yang baru saja aku katakan.
“Astaghfirullah hal’adzim. Terima kasih ya Rere kamu sudah menutupi keburukanku dan memperbaiki kekurangan-kekuranganku. Dan juga terima kasih engkau telah menasihatiku secara rahasia, tidak di keramaian atau di depan orang lain,” jawabnya dengan melempar senyum terindahnya kepadaku.
“Iya sama-sama, kawan. Maaf ya, kalau terkesan memaksa dan menggurui kamu. Tapi aku tidak bermaksud seperti itu. Ini aku lakukan karena aku sayang kamu,” tambahku.
“Iya, tidak apa-apa. Aku bisa terima itu kok,”jawabnya.
Kemudian ia segera memilih sepasang pakaian yang sesuai dengan keinginannya, dan mengembalikan pakaian yang lain pada tempatnya. Kami pun menuju ke kasir untuk membayarnya.
Alhamdulillah, nasihatku diterima dan dilaksanakan oleh Diana, gumamku dalam hati. Dari kejadian ini, kami pun sama-sama mengambil hikmah yang ada. Yaitu kita sebagai manusia yang jauh dari kesempurnaan perlu adanya adab-adab tertentu untuk menyikapi aib kawan kita. Agar nasihat kita mudah diterima dan dilaksanakan , sebab watak setiap manusia itu berbeda-beda. Oleh karena itu, harus memperhatikan adab-adab menasehati agar nasihat kita lebih mengena. Diantaranya, ikhlaskan niat, menasehati secara sembunyi, tidak memaksa, memilih waktu dan tempat yang tepat, serta memberi nasihat secara halus, penuh adab dan lemah lembut,


Tidak ada komentar:

Posting Komentar