“ Bagai bunga mawar berduri yang
sedang bermekaran di taman”. Ya, itulah ungkapan untuk masa-masa remaja. Tak
hanya masa-masa terindah yang menghiasi namun masa-masa terburuk pun datang
tanpa diundang menghampiri kehidupan ini. Dan kini aku pun sudah remaja. Rereta
Tytiany, itulah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku 17 tahun yang lalu.
Aku duduk di bangku SMA Mekar Sari, kelas 3. Sekolah ini sangat terkenal di
daerahku. Dan aku punya kawan dekat, ia juga duduk sebangku denganku, namanya
Dianawati.
Suatu ketika bulan Ramadhan, Sore
hari Diana berkunjung ke rumahku yang berjarak 400 meter dari rumahnya. Ia mengajakku
ke mall untuk membeli busana muslim yang akan digunakan saat Pondok Ramadhan
minggu depan. Aku pun segera menerima ajakannya. Sesampainya di mall yang ramai
oleh pengunjung yang ingin berbelanja atau pun hanya sekedar berekreasi bersama
keluarga. Kami pun langsung menuju ke
toko busana muslim yang juga tak kalah ramainya di bulan yang penuh berkah ini.
Tulisan diskon pakaian pun terpasang di setiap gantungan pakaian, perlengkapan
sholat, dan sebagainya. Diskon diberikan dari 10 % sampai 40%.
“Kamu mau beli apa saja Din,” tanyaku
“Aku mau sepasang pakaian, yaitu rok dan baju
batik,” jawabnya sambil memilih rok yang sesuai dengan keinginannya.
Meskipun aku tak berniat untuk berbelanja busana
muslim, tapi aku pun juga ikut melihat-lihat beberapa busana yang di pajang
pemilik toko. Setelah satu jam, Diana memanggilku untuk mengajakku ke kasir
untuk membayar belanjanya. Setelah melihat apa yang di bawa Diana, aku pun
segera membawanya ketempat yang tidak sedikit ramai, tepatnya di pojok toko.
“Din, katanya mau beli sepasang saja, tapi kok ini
banyak sekali,” tanyaku penasaran.
“Hehehe…tak apalah. Kan bulan Ramadhan waktunya
untuk berbelanja. Lagi pula ini lagi banyak diskon Re, kan lumayan,” jawabnya.
“Iya. Tapi tidak baik kalau belanja berlebihan
seperti ini. Sebab berlebihan itu tidak disukai oleh Allah, terlebih di bulan
yang mulia ini. Apa kamu
mau kelak hidupmu akan serba kekurangan kalau kamu berbelanja berlebihan
seperti ini.Istighfar kawan,”tuturku memberi nasihat.
“Tidak apa-apa. lagi pula Ayah dan Ibuku kan punya
gaji yang cukup besar,”tandasnya.
“Memang gaji orang tua kamu cukup untuk kebutuhan
sehari-hari. Tapi siapa yang akan menjamin jika satu jam ke depan akan terjadi
perubahan ekonomi di keluargamu? Tak adakan. Coba fikir kembali, Din, Ikuti kata hatimu, jangan nafsu kamu yang tak akan pernah ada habisnya jika
kita turuti. Dan hempaskan bisikan syetan yang
terngiang-ngiang,” ujarku dengan lemah lembut.
Diana pun menundukkan kepala sejenak. Memikirkan apa yang
baru saja aku katakan.
“Astaghfirullah hal’adzim. Terima kasih ya Rere kamu
sudah menutupi keburukanku dan memperbaiki kekurangan-kekuranganku. Dan juga
terima kasih engkau telah menasihatiku secara rahasia, tidak di keramaian atau
di depan orang lain,” jawabnya dengan melempar senyum terindahnya kepadaku.
“Iya sama-sama, kawan. Maaf ya, kalau terkesan
memaksa dan menggurui kamu. Tapi aku tidak bermaksud seperti itu. Ini aku
lakukan karena aku sayang
kamu,” tambahku.
“Iya, tidak apa-apa.
Aku bisa terima itu kok,”jawabnya.
Kemudian ia segera memilih sepasang pakaian yang
sesuai dengan keinginannya, dan mengembalikan pakaian yang lain pada tempatnya.
Kami pun menuju ke kasir untuk membayarnya.
Alhamdulillah, nasihatku diterima dan dilaksanakan
oleh Diana, gumamku dalam hati. Dari kejadian ini, kami pun sama-sama mengambil
hikmah yang ada. Yaitu kita sebagai manusia yang jauh dari kesempurnaan perlu
adanya adab-adab tertentu untuk menyikapi aib kawan kita. Agar nasihat kita
mudah diterima dan dilaksanakan , sebab watak setiap manusia itu berbeda-beda. Oleh
karena itu, harus memperhatikan adab-adab menasehati agar nasihat kita lebih
mengena. Diantaranya, ikhlaskan niat, menasehati secara sembunyi, tidak
memaksa, memilih waktu dan tempat yang tepat, serta memberi nasihat secara
halus, penuh adab dan lemah lembut,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar