Merdeka...Merdeka...Merdeka....
hari ini genap 68 tahun bangsa ini merdeka. mungkin udah
banyak yang tau sejarah bangsa Indonesia, tapi gak ada salahnya ane mengulasnya
kembali, hanya sekedar berbagi dan mengingat perjuangan Bangsa ini.
Mungkinkah Revolusi Kemerdekaan Indonesia disebut sebagai
revolusi dari kamar tidur?
Pada 17 Agustus 1945 pukul 08.00, ternyata Bung Karno masih
tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena
gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang
bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana
Maeda. “Pating greges”, keluh Bung Karno setelah dibangunkan dokter
kesayangannya.
Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan
menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi. Pukul 09.00, Bung Karno
terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan menemui sahabatnya, Bung Hatta.
Tepat pukul 10.00, keduanya memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi
rumah. “Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!”, ujar Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot
sejati. Mereka lalu menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera
pusaka Merah Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke
kamar tidurnya. Masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai. Upacara
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa protokol, tak ada
korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat
dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang
upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sekaral
yang dinanti-nanti selama lebih dari tiga ratus tahun!
Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang
menteri pertama yang benar-benar “orang Indonesia asli”
Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus
1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan
Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. “Orang
Indonesia asli” pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di
Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan
Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).
Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian
integral wilayah hukum Indonesia
Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah!
Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah
dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).
Hubungan antara revolusi Indonesia dan Hollywood, memang
dekat
Setiap 1 Juni, selalu diperingati sebagai Hari Lahir
Pancasila semasa Presiden Soekarno. Pada 1956, peristiwa tersebut “hampir
secara kebetulan” dirayakan di sebuah hotel di Hollywood. Bung Karno saat itu
mengundang aktris legendaris, Marylin Monroe, untuk sebuah makan malam di Hotel
Beverly Hills, Hollywood. Hadir di antaranya Gregory Peck, George Murphy dan
Ronald Reagan (25 tahun kemudian menjadi Presiden AS). Yang unik dari pesta
menjelang Hari Lahir Pancasila itu, adalah kebodohan Marilyn dalam hal protokol. Pada pesta itu, Maryln menyapa Bung Karno bukan dengan “Mr
President” atau “Your Excellency”, tetapi dengan “Prince Soekarno!”
Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood.
Judul pidato 17 Agustus 1964, “Tahun Vivere Perilocoso” (Tahun yang Penuh
Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film The Year of Living Dangerously. Film
tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan asing di Indonesia pada
1960-an. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu mendapat Oscar untuk
kategori film asing!
Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang
ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak
pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah!
Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan
baik oleh wartawan BM Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang
sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan
diketik oleh Sajuti Melik. Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut
kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.
Ketika tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa 9 Juli 1942 siang bolong, Bung Karno
mengeluarkan komentar pertama yang janggal didengar. Setelah menjalani
pengasingan dan pembuangan oleh Belanda di luar Jawa, Bung Karno justru tidak
membicarakan strategis perjuangan menentang penjajahan.
Masalah yang dibicarakannya, hanya tentang sepotong jas!
“Potongan jasmu bagus sekali!”,komentar Bung Karno pertama kali tentang jas
double breast yang dipakai oleh bekas iparnya, Anwar Tjikoroaminoto, yang
menjemputnya bersama Bung Hatta dan segelintir tokoh nasionalis.
Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers
Indonesia yang pernah mandi air seni
Saat pulang dari Dalat (Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13
Agustus 1945, Soekarno bersama Bung Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr
Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor
ganda. Dalam perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada
tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak tertahan
itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di situlah Bung Karno
melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu kencang sekali, bersemburlah air
seni itu dan membasahi semua penumpang.
Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus
1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini
Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang
mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam
detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif
itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan.
Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam
di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi,
negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai
sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang? Kali ini, Bung
Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa revolusi, Bung Karno memerintahkan
Bung Hatta untuk meminta bantuan senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk
pergi ke India pun dilakukan secara rahasia.
Bung Hatta memakai paspor dengan nama “Abdullah, co-pilot”.
Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang dikemudikan Biju
Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi menteri pada kabinet PM
Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak
bertemu Mahatma Gandhi. Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Gandhi
mengetahui perjuangan Hatta.
Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru bahwa
“Abdullah” itu adalah Mohammad hatta.
Apa reaksi Gandhi? Dia marah besar kepada Nehru, karena
tidak diberi tahu yang sebenarnya. “you are a liar !” ujar tokoh kharismatik
itu kepada Nehru.
Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru
tanggal tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia.
Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”,
WR Soepratman (lahir di Jatinegara, Batavia, 9 Maret 1903 – meninggal di
Surabaya, Jawa Timur, 17 Agustus 1938 pada umur 35 tahun) dan pencetus ilmu
bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (lahir di Malaka, 24 Oktober
1824 – meninggal di Surabaya, 17 Agustus 1894 pada umur 69 tahun) meninggal
dunia.
Bendera Merah Putih dan perayaan tujuh belasan bukanlah
monopoli Indonesia
Corak benderanya sama dengan corak bendera Kerajaan Monaco
dan hari kemerdekaannya sama dengan hari proklamasi Republik Gabon (sebuah negara
di Afrika Barat) yang merdeka 17 Agustus 1960. Jakarta, tempat
diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung
Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang co-proklamator
Indonesia. Ketika itu tidak ada “Jalan Soekarno-Hatta” di ibu kota Jakarta.
Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan
fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan
memakai nama mereka.
Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah
gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab,
baru 1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka
Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya
“lebih dari dua” proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl Imam Bonjol no 1,
Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat dini hari itu ikut
menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya. Tetapi usul
ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno,
Hatta dan calon proklamator yang gagal : Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti
Melik.
“Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau”, gerutu
Bung Hatta karena usulnya ditolak.
Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata tidak hanya
menelan korban rakyat biasa, tetapi juga seorang menteri kabinet RI
Soepeno, Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta,
merupakan satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda. Sebuah ujung revolver, dimasukkan ke dalam mulutnya dan
diledakkan secara keji oleh seorang tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus
kena peluru. Kejadian tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi di
sebuah tempat di Kabupaten Nganjuk , Jawa Timur. Saat itu, Soepeno dan
ajudannya sedang mandi sebuah pancuran air terjun.
Belum ada negara di dunia yang memiliki ibu kota sampai tiga
dalam kurun waktu relatif singkat
Antara 1945 dan 1948, Indonesia mempunyai 3 ibu kota, yakni
Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948) dan Bukittinggi (1948-1949). Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Jenderal
Soedirman, pada kenyatannya tidak pernah menduduki jabatan resmi di kabinet RI.
Beliau tidak pernah menjadi KSAD, Pangab, bahkan menteri pertahanan sekalipun!
Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang
memerintah Indonesia
Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia Belanda
melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri wayang orang dan pada
1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang. Pada 1943, Pemerintah Pendudukan
Jepang menerbitkan uang kertas seri wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945,
Jepang terusir dari Indonesia oleh pihak Sekutu. Pada 1964, Presiden Soekarno
mengeluarkan uang kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp 1 dan Rp 2,5 dan
1965 menjadi awal keruntuhan pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI.
Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai
presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani
sebuah dekret, melainkan memanggil tukang sate
Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih
secara aklamasi sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang
sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki). “Sate ayam lima
puluh tusuk!”, perintah Presiden Soekarno. Disantapnya sate dengan lahap dekat
sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya
sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa
lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.
Enam hari menjelang Natal 1948, Belanda memberikan hadiah
Natal di Minggu pagi, saat orang ingin pergi ke gereja, berupa bom yang
menghancurkan atap dapurnya. Hari itu, 19 Desember 1948, ibu kota Yogyakarta
jatuh ke tangan Belanda.
Kita sudah mengetahui, hubungan antara Bung Karno dan
Belanda tidaklah mesra. Tetapi Belanda pernah memberikan kenangan yang tak akan
pernah dilupakan oleh Bung Karno.
Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri RI pertama, menjadi
orang Indonesia yang memiliki prestasi “luar biasa” dan tidak akan pernah ada
yang menandinginya.
Waktu beliau wafat 1966 di Zurich, Swiss, statusnya sebagai
tahanan politik. Tetapi waktu dimakamkan di Jakarta beberapa hari kemudian,
statusnya berubah sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar