Minggu, 15 Maret 2015

Maraknya pengamen dan pengemis di negaraku

            Indonesia adalah negara kaya akan sumber daya alam. Sumber daya alam tersebut salah satu sumber perekonomian negara. Namun, negara ini memiliki populasi cukup besar, lebih dari 230 juta jiwa. Di negara Indonesia, istilah pengemis atau peminta-minta dan pengamen sudah tidak asing lagi didengar dan dilihat di berbagai wilayah terutama di ibu kota sendiri.


Jika kita melihat dari sisi timbal balik, tentu pengamen lebih baik kinerjanya dari pada pengemis, karena pengamen sebelumnya telah memberikan jasa berupa mendendangkan satu atau dua buah lagu untuk para pendengarnya dengan menggunakan alat musik yang dikuasai. Namun pengemis langsung meminta tanpa memberi apa-apa kepada pemberinya. Sebagian besar alasan mereka menjadi pengemis dan pengamen tak lain adalah karena himpitan ekonomi. Dimana seseorang tak lagi mampu memenuhi kebutuhan hidupnya terutama untuk makan sehari-hari karena kenyataannya pengeluaran tak lagi seimbang dengan pemasukan. Terlepas dari alasan mereka untuk menjadi pengemis dan pengamen, mari kita melihat hal tersebut dari orang yang memberi uang/barang kepada mereka tersebut. Dalam konteks agama islam, kita sebagai muslim dan muslimah, diperintahkan untuk memberikan sebagian rejeki yang kita punya kepada orang yang sedang kesusahan, seperti, fakir, miskin, yatim piatu, hamba sahaya, dan sebagainya. Karena harta yang kita miliki sekarang hakikatnya ada juga didalamnya hak orang lain.
Namun jika kita lihat dari sisi nama baik negara, tentu ini akan menimbulkan kesan buruk tentang kondisi negara kita karena diberbagai sudut tempat, kendaraan, lampu merah, kompleks perumahan, tempat umum, semuanya ada pengemis dan pengamen. Logikanya jika kita sering memberi uang kepada pengemis serta pengamen dan ia melakukan hal tersebut diberbagai tempat, tentu nominal yang didapat tidak lah kecil, mungkin bisa sampai ratusan ribu. Sehingga, mereka jadi berpikir bahwasannya mengemis dan mengamen ini bisa menjadi pekerjaan yang menjanjikan, mengingat besarnya pundi-pundi rupiah yang didapat tidaklah terbilang kecil. Alhasil, usaha pemerintah dalam mengurangi pengemis dan pengamen dengan pasal-pasal adalah hal yang percuma, hanya sebatas peraturan tertulis saja karena pola pikir pelakunya sudah terbentuk.
Sebagai manusia yang sering bertemu pengemis dan pengamen dimana-mana tentu pernah terlintas dibenak kita meskipun hanya sekilas tentang berbagai pertanyaan fenomena tersebut. Misalnya, kapan pengemis dan pengamen berkurang?, bagaimana mengurangi angka kemiskinan?, bagaimana kinerja pemerintah dalam menangani pengemis dan pengamen?.

Nah, lalu cara apalagi yang harus ditempuh untuk mengurangi jumlah pengemis tersebut. Berikut ada sedikit solusi semoga bermanfaat bagi semuanya. Pertama, jika kita ingin memberi sedikit rejeki kepada pengemis/pengamen alangkah baiknya kita lihat terlebih dahulu penampilan fisik orang tersebut. Dengan melihat penampilan orang tersebut akan membentuk pola pikir, apakah ia pantas atau tidak diberi rejeki. Artinya jika ia memiliki fisik sempurna, masih muda, dan kuat. Alangkah baiknya jangan kita beri, karena ia masih memiliki kemampuan fisik untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Bukannya bisa saja uang hasil ia mengemis/mengamen digunakan untuk membeli minuman keras, merokok, dan sebagainya.
Kedua, jika kita melakukan aktivitas berulang-ulang, misalnya di rumah, naik bis dengan jurusan yang sama berkali-kali, dan kita bertemu dengan penngemis/pengamen yang sama, jangan sering-sering kita memberinya uang/barang karena itu bisa membuat orang tersebut menjadi sebuah kebiasaan rutin, dan inilah salah satu alasan mengapa pengemis/pengamen di Indonesia tidak berkurang, karena masyarakat sendiri memberikan kesempatan kepada mereka untuk meminta-minta lagi kepada orang. Coba kalau kita tidak memberi uang pasti mereka akan beralih pekerjaan.
Ketiga, mungkin cara yang satu ini sudah sering kita lihat di kompleks tertentu, yaitu memberi papan peringatan bahwasannya pengemis, pengamen, pemulung tidak boleh memasuki daerah kompleks tersebut. Selain bisa mengurangi ketertiban kompleks juga bisa sebagi bentuk waspada jika ada yang bermaksud jahat seperti penculikan anak, pencurian, dan sebagianya.
 Keempat, kita orang Indonesia yang mayoritas umat beragama islam, marilah kita mencontoh akhlak Nabi Muhammad SAW. “Suatu ketika beliau kedatangan orang yang meminta-minta, dan kedapatan tidak memiliki uang. Akhirnya beliau menjual barang yang beliau punya dan laku 4 dirham. Akhirnya uang tersebut dibagi oleh beliau, yang 2 dirham untuk beliau, yang 2 dirham dibelikan kapak oleh beliau kemudian kapak itu diberikan kepada pengemis untuk mencari rejeki melalui kapak itu. Pengemis diminta setelah 15 hari diminta menemui Rasulullah. Setelah 15 hari, kehidupan pengemis tersebut menjadi lebih baik dan tidak menjadi pengemis kembali”. Dari kisah nyata diatas dapat disimpulkan kita jangan memberi pengemis berupa uang karena uang tersebut mempunyai dua kemungkinan tergantung yang menerimanya, digunakan untuk yang baik atau yang buruk. Akan tetapi, jikalau kita memberikan barang yang sudah jelas kegunaannya, tentu akan mendorong semangat pengemis/pengamen tersebut untuk mendapat rejeki dengan cara yang lebih baik lagi.

Mungkin itulah sedikit cara mengurangi pengemis/pengamen di Indonesia terutama disekeliling kita secara individu. Semoga ini tak hanya sebagai sebuah tulisan saja, tapi bisa kita terapkan sehari-hari. Akan tetapi dibalik sisi negatif pengemis dan pengamen ada nilai positif tentang pesan kehidupan yang bisa kita ambil yaitu “seorang pengamen jalanan adalah lebih baik hasilnya sedikit tetapi halal dan barokah daripada hasilnya banyak tetapi harus tinggal di balik jeruji.”. Ini adalah sebuah pesan seorang pengamen untuk para pencuri uang rakyat. Selain itu perlu kita ketahui bahwasannya, manusia itu luar biasa, karena ia diciptakan oleh Tuhan dengan dilengkapi otak untuk berpikir dan anggota tubuh yang lengkap untuk melakukan segala hal, segala hal itulah yang harus membawa kebaikan dan bertujuan mencari ridhoNya. Oleh karena itu, untuk menjadi hal yang luar biasa, kita tak boleh melakukan hal yang biasa-biasa saja.  

1 komentar: