Indonesia adalah negara kaya akan
sumber daya alam. Sumber daya alam tersebut salah satu sumber perekonomian
negara. Namun, negara ini memiliki populasi cukup besar, lebih dari 230 juta
jiwa. Di negara Indonesia, istilah pengemis atau peminta-minta dan pengamen
sudah tidak asing lagi didengar dan dilihat di berbagai wilayah terutama di ibu
kota sendiri.
Jika
kita melihat dari sisi timbal balik, tentu pengamen lebih baik kinerjanya dari
pada pengemis, karena pengamen sebelumnya telah memberikan jasa berupa mendendangkan
satu atau dua buah lagu untuk para pendengarnya dengan menggunakan alat musik
yang dikuasai. Namun pengemis langsung meminta tanpa memberi apa-apa kepada
pemberinya. Sebagian besar alasan mereka menjadi pengemis dan pengamen tak lain
adalah karena himpitan ekonomi. Dimana seseorang tak lagi mampu memenuhi
kebutuhan hidupnya terutama untuk makan sehari-hari karena kenyataannya
pengeluaran tak lagi seimbang dengan pemasukan. Terlepas dari alasan mereka
untuk menjadi pengemis dan pengamen, mari kita melihat hal tersebut dari orang
yang memberi uang/barang kepada mereka tersebut. Dalam konteks agama islam,
kita sebagai muslim dan muslimah, diperintahkan untuk memberikan sebagian
rejeki yang kita punya kepada orang yang sedang kesusahan, seperti, fakir,
miskin, yatim piatu, hamba sahaya, dan sebagainya. Karena harta yang kita
miliki sekarang hakikatnya ada juga didalamnya hak orang lain.
Namun
jika kita lihat dari sisi nama baik negara, tentu ini akan menimbulkan kesan buruk
tentang kondisi negara kita karena diberbagai sudut tempat, kendaraan, lampu
merah, kompleks perumahan, tempat umum, semuanya ada pengemis dan pengamen.
Logikanya jika kita sering memberi uang kepada pengemis serta pengamen dan ia
melakukan hal tersebut diberbagai tempat, tentu nominal yang didapat tidak lah
kecil, mungkin bisa sampai ratusan ribu. Sehingga, mereka jadi berpikir
bahwasannya mengemis dan mengamen ini bisa menjadi pekerjaan yang menjanjikan,
mengingat besarnya pundi-pundi rupiah yang didapat tidaklah terbilang kecil.
Alhasil, usaha pemerintah dalam mengurangi pengemis dan pengamen dengan
pasal-pasal adalah hal yang percuma, hanya sebatas peraturan tertulis saja
karena pola pikir pelakunya sudah terbentuk.
Sebagai
manusia yang sering bertemu pengemis dan pengamen dimana-mana tentu pernah
terlintas dibenak kita meskipun hanya sekilas tentang berbagai pertanyaan
fenomena tersebut. Misalnya, kapan pengemis dan pengamen berkurang?, bagaimana
mengurangi angka kemiskinan?, bagaimana kinerja pemerintah dalam menangani
pengemis dan pengamen?.
Nah,
lalu cara apalagi yang harus ditempuh untuk mengurangi jumlah pengemis
tersebut. Berikut ada sedikit solusi semoga bermanfaat bagi semuanya. Pertama, jika kita ingin memberi sedikit
rejeki kepada pengemis/pengamen alangkah baiknya kita lihat terlebih dahulu
penampilan fisik orang tersebut. Dengan melihat penampilan orang tersebut akan
membentuk pola pikir, apakah ia pantas atau tidak diberi rejeki. Artinya jika
ia memiliki fisik sempurna, masih muda, dan kuat. Alangkah baiknya jangan kita
beri, karena ia masih memiliki kemampuan fisik untuk mencari pekerjaan yang
lebih baik. Bukannya bisa saja uang hasil ia mengemis/mengamen digunakan untuk
membeli minuman keras, merokok, dan sebagainya.
Kedua,
jika kita melakukan aktivitas berulang-ulang, misalnya di rumah, naik bis
dengan jurusan yang sama berkali-kali, dan kita bertemu dengan
penngemis/pengamen yang sama, jangan sering-sering kita memberinya uang/barang
karena itu bisa membuat orang tersebut menjadi sebuah kebiasaan rutin, dan
inilah salah satu alasan mengapa pengemis/pengamen di Indonesia tidak
berkurang, karena masyarakat sendiri memberikan kesempatan kepada mereka untuk
meminta-minta lagi kepada orang. Coba kalau kita tidak memberi uang pasti
mereka akan beralih pekerjaan.
Ketiga,
mungkin cara yang satu ini sudah sering kita lihat di kompleks tertentu, yaitu
memberi papan peringatan bahwasannya pengemis, pengamen, pemulung tidak boleh
memasuki daerah kompleks tersebut. Selain bisa mengurangi ketertiban kompleks
juga bisa sebagi bentuk waspada jika ada yang bermaksud jahat seperti
penculikan anak, pencurian, dan sebagianya.
Keempat,
kita orang Indonesia yang mayoritas umat beragama islam, marilah kita mencontoh
akhlak Nabi Muhammad SAW. “Suatu ketika beliau kedatangan orang yang
meminta-minta, dan kedapatan tidak memiliki uang. Akhirnya beliau menjual
barang yang beliau punya dan laku 4 dirham. Akhirnya uang tersebut dibagi oleh
beliau, yang 2 dirham untuk beliau, yang 2 dirham dibelikan kapak oleh beliau
kemudian kapak itu diberikan kepada pengemis untuk mencari rejeki melalui kapak
itu. Pengemis diminta setelah 15 hari diminta menemui Rasulullah. Setelah 15
hari, kehidupan pengemis tersebut menjadi lebih baik dan tidak menjadi pengemis
kembali”. Dari kisah nyata diatas dapat disimpulkan kita jangan memberi
pengemis berupa uang karena uang tersebut mempunyai dua kemungkinan tergantung
yang menerimanya, digunakan untuk yang baik atau yang buruk. Akan tetapi,
jikalau kita memberikan barang yang sudah jelas kegunaannya, tentu akan
mendorong semangat pengemis/pengamen tersebut untuk mendapat rejeki dengan cara
yang lebih baik lagi.
Mungkin
itulah sedikit cara mengurangi pengemis/pengamen di Indonesia terutama
disekeliling kita secara individu. Semoga ini tak hanya sebagai sebuah tulisan
saja, tapi bisa kita terapkan sehari-hari. Akan tetapi dibalik sisi negatif
pengemis dan pengamen ada nilai positif tentang pesan kehidupan yang bisa kita
ambil yaitu “seorang pengamen jalanan
adalah lebih baik hasilnya sedikit tetapi halal dan barokah daripada hasilnya
banyak tetapi harus tinggal di balik jeruji.”. Ini adalah sebuah pesan
seorang pengamen untuk para pencuri uang rakyat. Selain itu perlu kita ketahui
bahwasannya, manusia itu luar biasa, karena ia diciptakan oleh Tuhan dengan
dilengkapi otak untuk berpikir dan anggota tubuh yang lengkap untuk melakukan
segala hal, segala hal itulah yang harus membawa kebaikan dan bertujuan mencari
ridhoNya. Oleh karena itu, untuk menjadi hal yang luar biasa, kita tak boleh
melakukan hal yang biasa-biasa saja.



Merdeka !!!
BalasHapus