Antusias masyarakat
Larung saji merupakan acara tolak bala tahunan yang diselenggarakan
di Telaga Ngebel Ponorogo dengan panitia pelaksana dari Pemerintahan Kebupaten
(Pemkab) Ponorogo. Acara yang diadakan setiap malam 1 muharram (Jawa:Suro)
memiliki daya tarik tersendiri. Salah satunya banyaknya sesaji yang di arak
mengelilingi Telaga Ngebel. Pengunjung yang menyaksikan acara ini tidak hanya
berasal dari Ponorogo saja tapi juga kota/kabupaten sekitar misalnya Madiun,
Pacitan, Trenggalek, dan sebagainya.
Namun dengan banyaknya pengunjung, adakah yang mengetahui tentang
asal-usul acara tersebut. Mengingat ada pernyataan bahwa kalau malam 1 muharram
itu dilarang keluar rumah, sedangkan masyarakat datang berbondong-bondong
datang ke Ponorogo untuk menyaksikan acara larung saji. Terlepas dari mereka
mengetahui atau tidak acara tersebut merupakan salah satu acara tahunan yang
banyak menarik wisatawan untuk berkunjung ke Ponorogo.
Tentang larung saji
Di era modern seperti sekarang, mayoritas masyarakat tentu lebih
memilih pergi ke mall untuk berakhir pekan atau liburan daripada pergi ke alam
terbuka yang jauh dari hiruk pikuk orang-orang. Dari pernyataan tersebut
menimbulkan asumsi bahwa apakah acara larung saji diselenggarakan dalam rangka
tolak bala atas kejadian tragis/mistis sebelumnya atauhanya dijadikan daya
tarik wisata untuk mengajak wisatawan berkunjung ke Telaga Ngebel?
“Tradisi ini berawal sekitar 20 tahun yang lalu. Sebelum adanya
larung saji telaga Ngebel sering terjadi kecelakaan yang kendaraannya masuk
telaga, ada juga orang yang berjalan masuk ke telaga, dan semuanya meninggal
dunia,” ujar Pak Slamet Riadi pemilik warung makan sekitar telaga. Mengenai
orang yang berjalan ke telaga warga sekitar sudah berupaya mengingatkan dan
menyelamatkan tetapi tidak membuahkan hasil, karena orang tersebut sudah
kemasukan roh halus. Sedangkan mobil yang masuk ke telaga tersebut ditumpangi
oleh 2 bersaudara bernama Rano dan Rani merupakan akhir kejadian kecelakaan di
telaga. Dikarenakan tokoh masyarakat yang bernama Heri berinisiatif mengadakan
acara tolak bala di Telaga Ngebel yang diberi nama larung saji. Sejak diadakan
acara tersebut Telaga Ngebel sudah aman hingga sekarang. Meskipun begitu masih
di temui kejadian kemasukan roh halus yang di alami anak-anak sekolah yang
mengadakan kegiatan di sekitar Telaga, yaitu seperti berkemah. Telaga Ngebel
adalah salah satu tempat favorit anak-anak pramuka untuk berkemah dan tempat
outbound bagi siswa maupun mahasiswa.
Sisi Positif
Meskipun dibalik acara larung saji tersebut terdapat hal-hal
mistis, namun kita harus menyikapi acara tersebut dengan baik. Bahwasannya
acara tersebut mempunyai sisi baik diantaranya, dimanapun dan kapanpun kita
berada kita harus selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa, mensyukuri nikmat
yang diberikan oleh Tuhan dalam hal ini seperti hasil alam yang melimpah, acara
tersebut juga menjalin silaturahmi antara Pemkab Ponorogo dengan masyarakatnya
serta sesama masyarakat, memperkenalkan tradisi tersebut pada generasi muda
sebagai penerusnya agar mereka tahu dan paham bahwa Ponorogo mempunyai tradisi
yang tidak ada di daerah manapun, serta memperkenalkan kesenian reog Ponorgo
pada masyarakat agar mereka tidak melupakan tradisi dan kesenian daerah mereka
sendiri. Karena bahwasannya eksisitenssi suatu daerah adalah dikarenakan
budaya/ciri khas yang dimilikinya.
Note: Ditulis untuk memenuhi tugas PJTL LPM Al-Millah STAIN PO
Tidak ada komentar:
Posting Komentar