Minggu, 22 Maret 2015

Sejarah larung saji, realita atau opini?

Antusias masyarakat
Larung saji merupakan acara tolak bala tahunan yang diselenggarakan di Telaga Ngebel Ponorogo dengan panitia pelaksana dari Pemerintahan Kebupaten (Pemkab) Ponorogo. Acara yang diadakan setiap malam 1 muharram (Jawa:Suro) memiliki daya tarik tersendiri. Salah satunya banyaknya sesaji yang di arak mengelilingi Telaga Ngebel. Pengunjung yang menyaksikan acara ini tidak hanya berasal dari Ponorogo saja tapi juga kota/kabupaten sekitar misalnya Madiun, Pacitan, Trenggalek, dan sebagainya.

Namun dengan banyaknya pengunjung, adakah yang mengetahui tentang asal-usul acara tersebut. Mengingat ada pernyataan bahwa kalau malam 1 muharram itu dilarang keluar rumah, sedangkan masyarakat datang berbondong-bondong datang ke Ponorogo untuk menyaksikan acara larung saji. Terlepas dari mereka mengetahui atau tidak acara tersebut merupakan salah satu acara tahunan yang banyak menarik wisatawan untuk berkunjung ke Ponorogo.
Tentang larung saji
Di era modern seperti sekarang, mayoritas masyarakat tentu lebih memilih pergi ke mall untuk berakhir pekan atau liburan daripada pergi ke alam terbuka yang jauh dari hiruk pikuk orang-orang. Dari pernyataan tersebut menimbulkan asumsi bahwa apakah acara larung saji diselenggarakan dalam rangka tolak bala atas kejadian tragis/mistis sebelumnya atauhanya dijadikan daya tarik wisata untuk mengajak wisatawan berkunjung ke Telaga Ngebel?
“Tradisi ini berawal sekitar 20 tahun yang lalu. Sebelum adanya larung saji telaga Ngebel sering terjadi kecelakaan yang kendaraannya masuk telaga, ada juga orang yang berjalan masuk ke telaga, dan semuanya meninggal dunia,” ujar Pak Slamet Riadi pemilik warung makan sekitar telaga. Mengenai orang yang berjalan ke telaga warga sekitar sudah berupaya mengingatkan dan menyelamatkan tetapi tidak membuahkan hasil, karena orang tersebut sudah kemasukan roh halus. Sedangkan mobil yang masuk ke telaga tersebut ditumpangi oleh 2 bersaudara bernama Rano dan Rani merupakan akhir kejadian kecelakaan di telaga. Dikarenakan tokoh masyarakat yang bernama Heri berinisiatif mengadakan acara tolak bala di Telaga Ngebel yang diberi nama larung saji. Sejak diadakan acara tersebut Telaga Ngebel sudah aman hingga sekarang. Meskipun begitu masih di temui kejadian kemasukan roh halus yang di alami anak-anak sekolah yang mengadakan kegiatan di sekitar Telaga, yaitu seperti berkemah. Telaga Ngebel adalah salah satu tempat favorit anak-anak pramuka untuk berkemah dan tempat outbound bagi siswa maupun mahasiswa.
Sisi Positif

Meskipun dibalik acara larung saji tersebut terdapat hal-hal mistis, namun kita harus menyikapi acara tersebut dengan baik. Bahwasannya acara tersebut mempunyai sisi baik diantaranya, dimanapun dan kapanpun kita berada kita harus selalu ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa, mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan dalam hal ini seperti hasil alam yang melimpah, acara tersebut juga menjalin silaturahmi antara Pemkab Ponorogo dengan masyarakatnya serta sesama masyarakat, memperkenalkan tradisi tersebut pada generasi muda sebagai penerusnya agar mereka tahu dan paham bahwa Ponorogo mempunyai tradisi yang tidak ada di daerah manapun, serta memperkenalkan kesenian reog Ponorgo pada masyarakat agar mereka tidak melupakan tradisi dan kesenian daerah mereka sendiri. Karena bahwasannya eksisitenssi suatu daerah adalah dikarenakan budaya/ciri khas yang dimilikinya.

Note: Ditulis untuk memenuhi tugas PJTL LPM Al-Millah STAIN PO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar