Oleh
Imam Rahmad B
(Disampaikan pada PAB LPM Al- Millah STAIN Ponorogo 2013)
(Disampaikan pada PAB LPM Al- Millah STAIN Ponorogo 2013)
Pers
adalah dunia yang sangat erat kaitannya dengan media. Pers secara umum berarti
media jurnalistik yang berfungsi sebagai media komunikatif dan berperan dalam
ranah publik. Sebagaimana sistem fungsionalnya, media menjadi sarana pemberi
dan penghantar pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran pembacanya. Sedangkan pers
lebih kepada ruang yang meliputi unsur-unsur media dan dunia jurnalistik itu
sendiri. Media di suatu tatanan masyarakat memegang kuasa yang kuat. Bahkan
untuk ukuran negara, media dapat dibilang sebagai pilar keempat dari demokrasi
karena media bertugas untuk menyebarkan informasi, termasuk menciptakan wacana
ke masyarakat.
Samakah pers secara
umum, pers kampus dengan pers mahasiswa?
Pers umum
lebih mengedepankan profit oriented dan
mentransformasikan berita-berita tentang hal populer. Selain itu, pers
umum(kondisi saat ini) menjadi perpanjangan tangan dari kepentingan-kepentingan
golongan yang menaungi perusahaan pers umum tersebut.
Pers
kampus dapat dianalogikan sebagai alat pengeras suara dari sebuah kampus.
Artinya atas dan karena kampuslah pers kampus ada dan ditiadakan. Mengingat
pers itu sendiri sebenarnya merupakan prasyarat wajib bagi sebuah kampus dalam
akreditasi, sedangkan disisi lain pers itu tugasnya adalah memberitakan fakta
tanpa tendensi dan intervensi. Sementara pers kampus tidak mengindahkan tugas
utama itu secara utuh, ia hanya melakukan apa yang diperintah kampus, memberitakan
apa yang diperbolehkan kampus dan menceritakan apa yang membuat kampus senang.
Begitulah pers kampus sehingga lebih cocokdisebut sebagai humas kampus.
Sedangkan
pers mahasiswa lebih bersifat non profit oriented dan menjadi media
alternatif ketika pers umum sudah kehilangan esensinya. Ciri utama sebuah media
(pers) adalah independensi, artinya tidak ada keterkaitan dan juga tidak ada
intervensi taupun batasan-batasan oleh pihak manapun. Pers mahasiswalah yang
masih mengusung independensi medianya dimana ia tidak terikat dan tidak akan
pernah ada yang bisa mengikatnya.
Pers
mahasiswa sangat melekat dengan dunia kampus. Inisiasi pers mahasiswa adalah
karena banyak sekali kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh “rezim” berkuasa
di Indonesia. Api perlawanan mahasiswa disulut oleh kebijakan rezim penguasa
yang tidak berpihak pada masyarakat. Pemerintah dianggap tidak mampu menangani
negara, maka mahasiswa terdahulu tidak jarang memberi respons subversif
terhadap situasi tersebut melalui upaya unjuk rasa, sampai gerakan penyadaran
lewat selebaran-selebaran. Karakter kritis tersebut yang kemudian
diejawantahkan, atau dibakukan melalui semangat pers oleh mahasiswa-mahasiswa,
yang kemudian melatarbelakangi berdirinya lembaga pers mahasiswa.
Ciri
yang melekat antara mahasiswa, pers, dan pers mahasiswa adalah pada aspek
kekritisan intelektual. Keberadaan pers mahasiswa pada mulanya tidak ada
bedanya dengan pers pada umumnya, namun ada beberapa poin penting yang
membedakannya. Pertama, pers pada umumnya adalah korporasi yang berada di bawah
kepentingan kelompok; sedangkan pers mahasiswa tidak berada pada lajur di
antara itu. Pers mahasiswa bersifat independen dan tidak merupakan lembaga yang
berada di bawah secara subordinatif melainkan koordinatif dengan lembaga yang
bernaung di atasnya, seperti BEM universitas maupun Rektorat.
Kedua,
pers mahasiswa bertugas untuk memberi informasi dan sarana pencerdasan secara
sosial maupun politik kepada masyarakat kampus. Lingkup teraktual dari pers
mahasiswa adalah ketika mampu memberi atensi dan segmentasi yang sedikit
berbeda dengan mainstream media lain. Karena selain pembahasannya yang ringan
dan berbobot, pers mahasiswa sebagaimana labelnya, dibentuk dengan ciri khas
mahasiswa dalam tulisan-tulisannya.
Ketiga,
yang perlu menjadi catatan bersama, format pers mahasiswa yang sekarang berbeda
dengan dulu, namun substansinya tetap sama. Dulu, pers mahasiswa menjadi
tumpuan pewacanaan untuk mengkritik dan membabat habis berbagai kebijakan
pemerintah. Namun dewasa ini, pers mahasiswa lebih ke arah yang pasifis dan
tidak terlalu subversif. Hal ini didasari kenyataan bahwa dinamika dan kontur
sosial telah bergeser. Pun meski begitu, pers mahasiswa tidak akan kehilangan
karakter kuatnya sebagai media menulis bagi mahasiswa-mahasiswa kritis. Karena
kritisme itu dibentuk dan diciptakan dari pemahaman dan kemampuan kita untuk
membaca. Tidak sebatas membaca literatur, tetapi juga membaca situasi yang
sedang berkembang, kontur, fenomena dan realitas sosial yang ada.
Berbicara
tentang apa saja yang menarik di pers mahasiswa, beliau menjelaskan bahwasannya
tidak ada hal yang menarik sama sekali di dalamnya. Pers mahasiswa adalah
tempat yang sangat bermasalah, dimana kita akan selalu menemukan masalah dan
kemudian menghadapi masalah yang ada tersebut. Sehinga tugas seorang anggota
pers mahasiswa hanyalah menikmati masalah yang muncul dengan cara
menghadapinya, bukan menghindarinya. Tentu saja sebelum berhasil menemukan
caranya, kita harus menganalisisnya terlebih dahulu. Bila dianalogikan, pers
mahasiswa seperti sebuah rumah, kemampuan kejurnalistikannya itu hanya menepati
teras rumah dan ruang tamu saja. Tugas anggota pers mahasiswa setiap harinya
hanya bersih-bersih rumah dan masalah itulah yang selalu akan dibersihkan.
Fungsi
dan peran dari pers mahasiswa itu ada 3, yaitu:
1. Alat
perjuangan. Menjadi penggerak, menjadi garda pendobrak ke semena-menaan melalui
pemberitaan. Pers mahasiswa sebagai pijakan dasar bagaimana pemikiran publik
itu terbentuk.
2. Kontrol
sosial. Karena independensinya pers mahasiswa mampu menerapkan pengawasan
terhadap praktek kekuasaan.
3. Media
alternatif. Pers mahasiswa diharapkan mampu menjadi wadah dalam memaparkan
fakta yang berusaha direkayasa atau disembunyikan. Pers mahasiswa juga mempu
mentransformasikan isu-isu yang tidak diberitakan oleh media umum.
Menurut
beliau, kondisi pers mahasiswa kini jauh memprihatinkan. Pers mahasiswa tidak
berpengaruh sama sekali meski telah kita ketahui bersama bahwa kekuatan dan
nilai tawar posisi sangat krusial. Hal tersebut terjadi karena adanya
ekslusifitas, megalomaniak, dan onani wacana.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar