Selasa, 17 Desember 2013

Wacana Pers Mahasiswa

Oleh Imam Rahmad B
(Disampaikan pada PAB LPM Al- Millah STAIN Ponorogo 2013)

Pers adalah dunia yang sangat erat kaitannya dengan media. Pers secara umum berarti media jurnalistik yang berfungsi sebagai media komunikatif dan berperan dalam ranah publik. Sebagaimana sistem fungsionalnya, media menjadi sarana pemberi dan penghantar pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran pembacanya. Sedangkan pers lebih kepada ruang yang meliputi unsur-unsur media dan dunia jurnalistik itu sendiri. Media di suatu tatanan masyarakat memegang kuasa yang kuat. Bahkan untuk ukuran negara, media dapat dibilang sebagai pilar keempat dari demokrasi karena media bertugas untuk menyebarkan informasi, termasuk menciptakan wacana ke masyarakat. 

Samakah pers secara umum, pers kampus dengan pers mahasiswa?
Pers umum lebih mengedepankan profit oriented dan mentransformasikan berita-berita tentang hal populer. Selain itu, pers umum(kondisi saat ini) menjadi perpanjangan tangan dari kepentingan-kepentingan golongan yang menaungi perusahaan pers umum tersebut.
Pers kampus dapat dianalogikan sebagai alat pengeras suara dari sebuah kampus. Artinya atas dan karena kampuslah pers kampus ada dan ditiadakan. Mengingat pers itu sendiri sebenarnya merupakan prasyarat wajib bagi sebuah kampus dalam akreditasi, sedangkan disisi lain pers itu tugasnya adalah memberitakan fakta tanpa tendensi dan intervensi. Sementara pers kampus tidak mengindahkan tugas utama itu secara utuh, ia hanya melakukan apa yang diperintah kampus, memberitakan apa yang diperbolehkan kampus dan menceritakan apa yang membuat kampus senang. Begitulah pers kampus sehingga lebih cocokdisebut sebagai humas kampus.
Sedangkan pers mahasiswa lebih bersifat non profit oriented dan menjadi media alternatif ketika pers umum sudah kehilangan esensinya. Ciri utama sebuah media (pers) adalah independensi, artinya tidak ada keterkaitan dan juga tidak ada intervensi taupun batasan-batasan oleh pihak manapun. Pers mahasiswalah yang masih mengusung independensi medianya dimana ia tidak terikat dan tidak akan pernah ada yang bisa mengikatnya.
Pers mahasiswa sangat melekat dengan dunia kampus. Inisiasi pers mahasiswa adalah karena banyak sekali kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh “rezim” berkuasa di Indonesia. Api perlawanan mahasiswa disulut oleh kebijakan rezim penguasa yang tidak berpihak pada masyarakat. Pemerintah dianggap tidak mampu menangani negara, maka mahasiswa terdahulu tidak jarang memberi respons subversif terhadap situasi tersebut melalui upaya unjuk rasa, sampai gerakan penyadaran lewat selebaran-selebaran. Karakter kritis tersebut yang kemudian diejawantahkan, atau dibakukan melalui semangat pers oleh mahasiswa-mahasiswa, yang kemudian melatarbelakangi berdirinya lembaga pers mahasiswa.
Ciri yang melekat antara mahasiswa, pers, dan pers mahasiswa adalah pada aspek kekritisan intelektual. Keberadaan pers mahasiswa pada mulanya tidak ada bedanya dengan pers pada umumnya, namun ada beberapa poin penting yang membedakannya. Pertama, pers pada umumnya adalah korporasi yang berada di bawah kepentingan kelompok; sedangkan pers mahasiswa tidak berada pada lajur di antara itu. Pers mahasiswa bersifat independen dan tidak merupakan lembaga yang berada di bawah secara subordinatif melainkan koordinatif dengan lembaga yang bernaung di atasnya, seperti BEM universitas maupun Rektorat.
Kedua, pers mahasiswa bertugas untuk memberi informasi dan sarana pencerdasan secara sosial maupun politik kepada masyarakat kampus. Lingkup teraktual dari pers mahasiswa adalah ketika mampu memberi atensi dan segmentasi yang sedikit berbeda dengan mainstream media lain. Karena selain pembahasannya yang ringan dan berbobot, pers mahasiswa sebagaimana labelnya, dibentuk dengan ciri khas mahasiswa dalam tulisan-tulisannya.
Ketiga, yang perlu menjadi catatan bersama, format pers mahasiswa yang sekarang berbeda dengan dulu, namun substansinya tetap sama. Dulu, pers mahasiswa menjadi tumpuan pewacanaan untuk mengkritik dan membabat habis berbagai kebijakan pemerintah. Namun dewasa ini, pers mahasiswa lebih ke arah yang pasifis dan tidak terlalu subversif. Hal ini didasari kenyataan bahwa dinamika dan kontur sosial telah bergeser. Pun meski begitu, pers mahasiswa tidak akan kehilangan karakter kuatnya sebagai media menulis bagi mahasiswa-mahasiswa kritis. Karena kritisme itu dibentuk dan diciptakan dari pemahaman dan kemampuan kita untuk membaca. Tidak sebatas membaca literatur, tetapi juga membaca situasi yang sedang berkembang, kontur, fenomena dan realitas sosial yang ada.
Berbicara tentang apa saja yang menarik di pers mahasiswa, beliau menjelaskan bahwasannya tidak ada hal yang menarik sama sekali di dalamnya. Pers mahasiswa adalah tempat yang sangat bermasalah, dimana kita akan selalu menemukan masalah dan kemudian menghadapi masalah yang ada tersebut. Sehinga tugas seorang anggota pers mahasiswa hanyalah menikmati masalah yang muncul dengan cara menghadapinya, bukan menghindarinya. Tentu saja sebelum berhasil menemukan caranya, kita harus menganalisisnya terlebih dahulu. Bila dianalogikan, pers mahasiswa seperti sebuah rumah, kemampuan kejurnalistikannya itu hanya menepati teras rumah dan ruang tamu saja. Tugas anggota pers mahasiswa setiap harinya hanya bersih-bersih rumah dan masalah itulah yang selalu akan dibersihkan.
Fungsi dan peran dari pers mahasiswa itu ada 3, yaitu:
1.      Alat perjuangan. Menjadi penggerak, menjadi garda pendobrak ke semena-menaan melalui pemberitaan. Pers mahasiswa sebagai pijakan dasar bagaimana pemikiran publik itu terbentuk.
2.      Kontrol sosial. Karena independensinya pers mahasiswa mampu menerapkan pengawasan terhadap praktek kekuasaan.
3.      Media alternatif. Pers mahasiswa diharapkan mampu menjadi wadah dalam memaparkan fakta yang berusaha direkayasa atau disembunyikan. Pers mahasiswa juga mempu mentransformasikan isu-isu yang tidak diberitakan oleh media umum.
Menurut beliau, kondisi pers mahasiswa kini jauh memprihatinkan. Pers mahasiswa tidak berpengaruh sama sekali meski telah kita ketahui bersama bahwa kekuatan dan nilai tawar posisi sangat krusial. Hal tersebut terjadi karena adanya ekslusifitas, megalomaniak, dan onani wacana.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar