Oleh
Bapak Iswahyudi
(Disampaikan pada PAB LPM Al- Millah STAIN Ponorogo 2013)
(Disampaikan pada PAB LPM Al- Millah STAIN Ponorogo 2013)
Sebelum menjelaskan apakah metode
berfikir kritis itu, kita harus tahu makna dibalik ketiga kata tersebut, karena
metode berpikir kritis itu sangat penting bagi setiap orang terutama anggota
pers mahasiswa.
Pertama
adalah Metode. Metode adalah cara atau langkah-langkah yang dilakukan seseorang
dalam mencapai tujuan. Berbeda metode, sudah pasti berbeda cara kerja dan juga
berbeda hasilnya. Kedua adalah berpikir.
Ada tiga komposisi manusia dalam
berpikir, yaitu tidak berfikir, pikir, dan nalar. Rata-rata manusia berada pada
komposisi berfikir, sedangkan nalar dapat dibagi menjadi dua pengertian.
Pertama nalar pembentuk yaitu aktivitas yang mampu membentuk seseorang yang
kritis terhadap suatu keadaan dan kedua adalah nalar terbentuk yaitu aktivitas
berfikir melalui proses yang panjang. Perlu diketahui bahwasannya tulisan yang
kritis itu adalah tulisan yang bernalar. Berikutnya adalah berpikir kritis.
Dalam berpikir kritis kita bisa menganalogikannya seperti segitiga dengan tiga
hal di dalamnya. Hal yang pertama adalah mendalam
sampai ke akar. Disini kita dituntut untuk mampu memberikan penjelasan
tentang 3 pertanyaan penting, yaitu:
1. Apa
(Problem definisi)
2. Bagaimana
(Problem sumber, metode, kebenaran)
3. Untuk
apa (Problem manfaat)
Tiga
pertanyaan tadi harus dikaji secara mendalam demi mendapatkan informasi yang
akurat dan mengasah kita untuk berpikir kritis. Selain itu, penulis juga harus
mampu mengerti dan tahu akan obyek yang dituju. Hal yang kedua adalah reflektif yaitu mengaitkan 3 pertanyaan
tersebut di atas dengan permasalahan pengetahuan di masa lalu, permasalahan di
masa sekarang dan pengadaian di masa yang akan datang. Ketiga adalah membaca yang tersembunyi yaitu
memasukkan hal-hal penting seperti ideologi pengetahuan, relasi pengetahuan dan
kekuasaan, determinasi ekonomi dan politik, serta keterkungkungan
budaya.Kesimpulan yang bisa di ambil dari penjabaran di atas adalah bahwasannya
berpikir kritis adalah mengomunikasikan fakta dengan perspektif dan idealitas.
Hal
yang perlu kita tekankan selanjutnya adalah, kenapa harus kritis?. Jawabannya
adalah karena kita harus berupaya keluar dari ketidaksadaran mendalam;
membongkar kungkungan ideologi,ekonomi, politik dan budaya; mencari hakikat;
serta menemukan kebenaran. Namun di tengah upaya menemukan kebenaran sering
kali kritisisme menemui berbagai kesalahan dalam penerapannya. Berbagai
kesalahan tersebut antara lain, kritisisme identik dengan kekerasan, kritisisme
selalu demo, kritisisme berpakaian tidak rapi dan rambut gondrong, serta kritisisme
tidak punya sopan santun. Lalu bagaimana cara menumbuhkan kritisisme? Pertama
adalah diawali dengan pertanyaan kritis. Misalnya, awali dari pertanyaan “apa”,
“kapan”, dan “dimana”; lanjutkan dengan “bagaimana”; kemudian teruskan dengan
“apa manfaatnya”. Kedua adalah dengan membaca kesenjangan, caranya dengan
kuasai fakta yang sedang terjadi, kaitkan dengan pengetahuan yang dimiliki
sebelumnya, kemudian hubungkan fakta dengan pengetahuan tersebut.
Dari
cara-cara yang sudah dijelaskan di atas kita harus merubah kritisisime semu
menjadi kritisisme nyata dengan cara menulis kritisisme dalam bentuk tulisan,
mempraktikan kritisisme dalam diskusi, serta melakukannya dalam kehidupan
sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar