Selasa, 17 Desember 2013

Metode Berpikir Kritis

Oleh Bapak Iswahyudi
(Disampaikan pada PAB LPM Al- Millah STAIN Ponorogo 2013)

            Sebelum menjelaskan apakah metode berfikir kritis itu, kita harus tahu makna dibalik ketiga kata tersebut, karena metode berpikir kritis itu sangat penting bagi setiap orang terutama anggota pers mahasiswa.
Pertama adalah Metode. Metode adalah cara atau langkah-langkah yang dilakukan seseorang dalam mencapai tujuan. Berbeda metode, sudah pasti berbeda cara kerja dan juga berbeda hasilnya. Kedua adalah berpikir.
Ada tiga komposisi manusia dalam berpikir, yaitu tidak berfikir, pikir, dan nalar. Rata-rata manusia berada pada komposisi berfikir, sedangkan nalar dapat dibagi menjadi dua pengertian. Pertama nalar pembentuk yaitu aktivitas yang mampu membentuk seseorang yang kritis terhadap suatu keadaan dan kedua adalah nalar terbentuk yaitu aktivitas berfikir melalui proses yang panjang. Perlu diketahui bahwasannya tulisan yang kritis itu adalah tulisan yang bernalar. Berikutnya adalah berpikir kritis. Dalam berpikir kritis kita bisa menganalogikannya seperti segitiga dengan tiga hal di dalamnya. Hal yang pertama adalah mendalam sampai ke akar. Disini kita dituntut untuk mampu memberikan penjelasan tentang 3 pertanyaan penting, yaitu:
1.      Apa (Problem definisi)
2.      Bagaimana (Problem sumber, metode, kebenaran)
3.      Untuk apa (Problem manfaat)
Tiga pertanyaan tadi harus dikaji secara mendalam demi mendapatkan informasi yang akurat dan mengasah kita untuk berpikir kritis. Selain itu, penulis juga harus mampu mengerti dan tahu akan obyek yang dituju. Hal yang kedua adalah reflektif yaitu mengaitkan 3 pertanyaan tersebut di atas dengan permasalahan pengetahuan di masa lalu, permasalahan di masa sekarang dan pengadaian di masa yang akan datang. Ketiga adalah membaca yang tersembunyi yaitu memasukkan hal-hal penting seperti ideologi pengetahuan, relasi pengetahuan dan kekuasaan, determinasi ekonomi dan politik, serta keterkungkungan budaya.Kesimpulan yang bisa di ambil dari penjabaran di atas adalah bahwasannya berpikir kritis adalah mengomunikasikan fakta dengan perspektif dan idealitas.
Hal yang perlu kita tekankan selanjutnya adalah, kenapa harus kritis?. Jawabannya adalah karena kita harus berupaya keluar dari ketidaksadaran mendalam; membongkar kungkungan ideologi,ekonomi, politik dan budaya; mencari hakikat; serta menemukan kebenaran. Namun di tengah upaya menemukan kebenaran sering kali kritisisme menemui berbagai kesalahan dalam penerapannya. Berbagai kesalahan tersebut antara lain, kritisisme identik dengan kekerasan, kritisisme selalu demo, kritisisme berpakaian tidak rapi dan rambut gondrong, serta kritisisme tidak punya sopan santun. Lalu bagaimana cara menumbuhkan kritisisme? Pertama adalah diawali dengan pertanyaan kritis. Misalnya, awali dari pertanyaan “apa”, “kapan”, dan “dimana”; lanjutkan dengan “bagaimana”; kemudian teruskan dengan “apa manfaatnya”. Kedua adalah dengan membaca kesenjangan, caranya dengan kuasai fakta yang sedang terjadi, kaitkan dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya, kemudian hubungkan fakta dengan pengetahuan tersebut.
Dari cara-cara yang sudah dijelaskan di atas kita harus merubah kritisisime semu menjadi kritisisme nyata dengan cara menulis kritisisme dalam bentuk tulisan, mempraktikan kritisisme dalam diskusi, serta melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar