Selasa, 17 Desember 2013

Metode Penggalian Data

Oleh Muhammad Arifin
(Disampaikan pada PAB LPM Al- Millah STAIN Ponorogo 2013)

            Dalam membuat berita, data menepati posisi penting karena melalui data peristiwa/fakta dapat dilaporkan. Data merupakan rekaman dari suatu peristiwa dan jurnalis menyajikan konstruksi dari peristiwa/fakta tersebut yang disusun dari berbagai data. Ada beberapa cara untuk penggalian data tersebut. Pertama, melalui pengamatan langsung penulis (observasi) untuk mendapatkan data tentang kejadian. Kedua, melakukan wawancara terhadap seseorang yang terlibat langsung dalam suatu kejadian.
Wawancara bertujuan untuk melakukan cross chek demi akurasi data yang diperoleh melalui pengamatan. Ketiga, melalui data literatur yaitu dokumen-dokumen dengan suatu fakta kejadian ataupun fenomena (jika dimungkinkan) data demikian dianggap penting.
1.    Observasi
Ini dilakukan pada tahap awal pencarian data tentang sesuatu. Dalam pengamatan sangat mengandalkan kepekaan inderawi (lihat, dengar, cium, sentuh) untuk mengamati realitas. Namun sebagai obsevator tidak boleh memahami realitas detail kejadian, untuk itu diperlukan upaya memfokuskan pengamatan pada obyek-obyek yang tengah diamati.
Observasi memerlukan daya pengamatan yang kritis, luas juga tajam sehingga si pengamat harus bisa mengontrol emosional dan menjaga jarak dengan segala rincian obyek yang diamati. Observasi ini bersifat langsung dan orisinal. Langsung artinya dalam pengamatannya tidak berdasarkan teori, pikiran, dan pendapat. Orisinil artinya hasil serapan inderanya bukan yang dilaporkan orang lain.
2.    Pengamatan I
Tahap ini merupakan langkah untuk memfokuskan kesadaran dan kepekaan penginderaan pada suatu obyek yang telah ditentukan agar mampu untuk mendeskripsikannya. Dalam pendeskripsian ini harus mengoptimalkan kemampuan indera dalam menggambarkan sebuah benda tanpa menyebutkan sifat objeknya jika mengungkapkannya maka deskripsi tersebut akan bersifat subjektif.
3.    Pengamatan II
Dalam tahap ini deskripsi objek lebih ditingkatkan lagi pada benda bergerak/hidup. Prinsip yang digunakan tidak jauh berbeda dengan pengamatan I namun lebih dimaksimalkan lagi. Pembatasan wilayah objektivitas dan subjektivitas tetap ditekankan namun lebih dikembangkan . Dengan demikian akan lebih mengarah deskripsi pada fokus benda. Selain itu, pengungkapan kondisi dan suasana lingkungan dapat dimasukkan untuk memberikan deskripsi secara utuh.
4.    Pengamatan III
Tahap ini akan mengamati sebuah gamba atau foto dari sebuah peristiwa guna untuk membangun analisis dan deskripsi objektif dari sebuah gamba atau foto yang dianggap sebagai dunia nyata sekaligus pengamat diposisikan seolah-olah berada dalam keadaan tersebut. Fokus kesadaran penginderaan benar-benar harus dicurahkan untuk mendapatkan deskripsi yang detail dan akurat guna dijadikan tolak ukur kekuatan dan kemampuan seorang jurnalis dalam menganalisa dan memecahkan persoalan sekaligus menuangkannua dalam tulisan. Untuk mempertajam analisa dapat ditambah dengan prinsip 5W+1H.
5.    Pengamatan IV
Pengamatan ini memfokuskan kesadaran dan kepekaan indra pada sebuah peristiwa nyata untuk kemudian dideskripsikan. Deskripsi tersebut juga bisa dibantu wawancara maupun cara lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Hanya saja titik tekan lebih pada pengamatan indera dan prinsip 5W+1H dapat diaplikasikan secara langsung dan menyeluruh. Perlu diketahui bahwa objektivitas dan subjektivitas pendapat orang akan bersifat relatif, tergantung pada siapa yang mengatakan dan dalam kondisi bagaimana. Subjektifitas akan dikatan objektif apabila dikaitkan dengan pendapat seseorang dalam arti bukan pendapat penulis/jurnalis.
6.    Wawancara
Wawancara merupakan aktivitas yang dilakukan dalam jurnalistik untuk memperoleh data. Dalam aktivitas ini pewawancara dan nara sumber akan membangun kembali ingatan-ingatan peristiwa yang telah terjadi.
7.    Teknik Wawancara
Menguasai permasalahan adalah hal penting guna menghindari kesalahpahaman antara pewawancara dan nara sumber. Berikut adalah cara untuk membangun komunikasi yang baik saat wawancara:
a.       Ajukan pertanyaan yang lebih spesifik.
Pertanyaan yang lebih spesifikakan lebih membantu dan mempermudah dalam mengarahkan topik pembicaraan.
b.      Jangan menggurui.
Wawancara bukan proses tanya jawab tetapi aktivitas membangun ingatan terhadap peristiwa yang baru terjadi atau telah lampau.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar