Oleh
Muhammad Arifin
(Disampaikan pada PAB LPM Al- Millah STAIN Ponorogo 2013)
(Disampaikan pada PAB LPM Al- Millah STAIN Ponorogo 2013)
Dalam membuat berita, data menepati
posisi penting karena melalui data peristiwa/fakta dapat dilaporkan. Data
merupakan rekaman dari suatu peristiwa dan jurnalis menyajikan konstruksi dari
peristiwa/fakta tersebut yang disusun dari berbagai data. Ada beberapa cara
untuk penggalian data tersebut. Pertama, melalui pengamatan langsung penulis
(observasi) untuk mendapatkan data tentang kejadian. Kedua, melakukan wawancara
terhadap seseorang yang terlibat langsung dalam suatu kejadian.
Wawancara
bertujuan untuk melakukan cross chek demi
akurasi data yang diperoleh melalui pengamatan. Ketiga, melalui data literatur
yaitu dokumen-dokumen dengan suatu fakta kejadian ataupun fenomena (jika
dimungkinkan) data demikian dianggap penting.
1. Observasi
Ini
dilakukan pada tahap awal pencarian data tentang sesuatu. Dalam pengamatan
sangat mengandalkan kepekaan inderawi (lihat, dengar, cium, sentuh) untuk
mengamati realitas. Namun sebagai obsevator tidak boleh memahami realitas
detail kejadian, untuk itu diperlukan upaya memfokuskan pengamatan pada
obyek-obyek yang tengah diamati.
Observasi
memerlukan daya pengamatan yang kritis, luas juga tajam sehingga si pengamat
harus bisa mengontrol emosional dan menjaga jarak dengan segala rincian obyek
yang diamati. Observasi ini bersifat langsung dan orisinal. Langsung artinya
dalam pengamatannya tidak berdasarkan teori, pikiran, dan pendapat. Orisinil
artinya hasil serapan inderanya bukan yang dilaporkan orang lain.
2. Pengamatan
I
Tahap
ini merupakan langkah untuk memfokuskan kesadaran dan kepekaan penginderaan
pada suatu obyek yang telah ditentukan agar mampu untuk mendeskripsikannya.
Dalam pendeskripsian ini harus mengoptimalkan kemampuan indera dalam
menggambarkan sebuah benda tanpa menyebutkan sifat objeknya jika
mengungkapkannya maka deskripsi tersebut akan bersifat subjektif.
3. Pengamatan
II
Dalam
tahap ini deskripsi objek lebih ditingkatkan lagi pada benda bergerak/hidup.
Prinsip yang digunakan tidak jauh berbeda dengan pengamatan I namun lebih
dimaksimalkan lagi. Pembatasan wilayah objektivitas dan subjektivitas tetap
ditekankan namun lebih dikembangkan . Dengan demikian akan lebih mengarah
deskripsi pada fokus benda. Selain itu, pengungkapan kondisi dan suasana
lingkungan dapat dimasukkan untuk memberikan deskripsi secara utuh.
4. Pengamatan
III
Tahap
ini akan mengamati sebuah gamba atau foto dari sebuah peristiwa guna untuk
membangun analisis dan deskripsi objektif dari sebuah gamba atau foto yang
dianggap sebagai dunia nyata sekaligus pengamat diposisikan seolah-olah berada
dalam keadaan tersebut. Fokus kesadaran penginderaan benar-benar harus
dicurahkan untuk mendapatkan deskripsi yang detail dan akurat guna dijadikan
tolak ukur kekuatan dan kemampuan seorang jurnalis dalam menganalisa dan memecahkan
persoalan sekaligus menuangkannua dalam tulisan. Untuk mempertajam analisa
dapat ditambah dengan prinsip 5W+1H.
5. Pengamatan
IV
Pengamatan
ini memfokuskan kesadaran dan kepekaan indra pada sebuah peristiwa nyata untuk
kemudian dideskripsikan. Deskripsi tersebut juga bisa dibantu wawancara maupun
cara lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Hanya saja titik tekan
lebih pada pengamatan indera dan prinsip 5W+1H dapat diaplikasikan secara
langsung dan menyeluruh. Perlu diketahui bahwa objektivitas dan subjektivitas
pendapat orang akan bersifat relatif, tergantung pada siapa yang mengatakan dan
dalam kondisi bagaimana. Subjektifitas akan dikatan objektif apabila dikaitkan
dengan pendapat seseorang dalam arti bukan pendapat penulis/jurnalis.
6. Wawancara
Wawancara
merupakan aktivitas yang dilakukan dalam jurnalistik untuk memperoleh data.
Dalam aktivitas ini pewawancara dan nara sumber akan membangun kembali
ingatan-ingatan peristiwa yang telah terjadi.
7. Teknik
Wawancara
Menguasai
permasalahan adalah hal penting guna menghindari kesalahpahaman antara
pewawancara dan nara sumber. Berikut adalah cara untuk membangun komunikasi
yang baik saat wawancara:
a. Ajukan
pertanyaan yang lebih spesifik.
Pertanyaan yang lebih
spesifikakan lebih membantu dan mempermudah dalam mengarahkan topik
pembicaraan.
b. Jangan
menggurui.
Wawancara bukan proses tanya jawab
tetapi aktivitas membangun ingatan terhadap peristiwa yang baru terjadi atau
telah lampau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar