Rabu, 31 Oktober 2018

Saling Menghidupi Hidup


#belajardaritetangga #part1

  Sadar tidak sadar, orang sekitar sering memberikan kita pelajaran berharga tentang hidup ini bahwa sesungguhnya kita bisa hidup karena kita saling bekerja sama untuk melanjutkan hidup. Awalnya aku merasa aneh jika seorang istri harus bekerja full time sedangkan sang suami mengerjakan pekerjaan rumah. Akan tetapi, dari beliaulah pemikiranku yang seperti itu perlahan berubah. Dalam hidup, bertukar posisi seperti itu bukanlah hal yang aneh. Selama sudah ada kesepakatan antara kedua belah pihak dan tidak lupa akan hak kewajiban dari suami istri itu sendiri meskipun bertukar posisi sebagai tulang punggung keluarga.
Kisah ini berasal dari tetangga belakang rumahku. Pasangan suami istri yang dikaruniai dua orang anak. Sang istri adalah seorang pedagang di pasar di kota. Jarak rumah ke pasar sekitar ±30 KM dengan waktu tempuh ±30 menit. Beliau berangkat pagi hari sekitar pukul 03.30. Untuk sampai ke pasar beliau selalu diantar suaminya. Sang suami pun juga membantu mempersiapkan barang dagangan dan tempat dagangnya. Setelah semuanya siap suaminya pun pulang ke rumah dan tiba sekitar pukul 04.30. Saat pulang bejualan pun sang istri juga dijemput sang suami sekitar pukul 13.00. Begitulah rutinitas beliau setiap harinya. Mengantar anak sekolah, memasak, bersih-bersih rumah, dan pekerjaan rumah lainnya pada pagi hari pun dilakukan oleh sang suami, Beliau sangat menyadari bahwa dalam berumah tangga harus saling membantu agar roda kehidupan ini terus berjalan dengan baik.
  Bagiku, keluarga yang seperti ini memang harus open-minded tentang perubahan pertukaran posisi dalam rumah tangga. Apapun yang dikatakan orang sekitar tentang keluarganya, mereka harus kuat menghadapinya karena rejeki dalam keluarga itu tidak ada yang tahu akan berada di pihak siapa. Jika saat ini rejeki sedang ada dalam diri sang istri maka harus ada sokongan dari kedua belah pihak. Tak perlu merasa minder karena tersaingi. Bukankah rejeki sang istri juga rejeki suami dan keluarga juga. Meskipun diri ini juga berharap meskipun istri bekerja, suami harus tetap punya semangat untuk menjadi tulang punggung keluarga memberikan nafkah yang baik karena Allah telah berfirman di dalam al-Quran surat Al-baqarah ayat 233 yang berbunyi "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan."
            Sehingga sang istri bisa tetap berada dirumah membangun keluarga yang sakinah mawaddah rahmah barakah. Hal tersebut merujuk ke ayat Al-Qur’an yaitu surat al Ahzab ayat 33 yang berbunyi "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu[1215] dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu[1216] dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait[1217] dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."



[1215] Maksudnya: isteri-isteri Rasul agar tetap di rumah dan ke luar rumah bila ada keperluan yang dibenarkan oleh syara'. perintah ini juga meliputi segenap mukminat.
[1216] Yang dimaksud Jahiliyah yang dahulu ialah Jahiliah kekafiran yang terdapat sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan yang dimaksud Jahiliyah sekarang ialah Jahiliyah kemaksiatan, yang terjadi sesudah datangnya Islam.
[1217] Ahlul bait di sini, Yaitu keluarga rumah tangga Rasulullah s.a.w.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar