Senin, 09 April 2018

Pilihanku Adalah Tanggung Jawabku


  Hallo semua…Semoga sehat selalu ya 😊
Kali ini aku ingin berbagi tentang apa yang aku alami akhir-akhir ini nih, yaitu tentang karir.  Well, karir itu penting banget buat aku, seorang fresh graduate. Aku bersyukur dengan tingkat pendidikan terakhir yaitu strata satu, karena aku sedikit memiliki peluang yang besar untuk terjun di dunia kerja meskipun ijazah bukanlah segalanya. But at least, aku lolos di tahap pertama yaitu persyaratan umum. Hehe 😂

Dalam pencariaan karir ini, aku harus mempertimbangkan sesuatu dengan masak-masak terutama kesehatanku. Pasalnya aku baru saja melakukan operasi kedua. Gak bisa dipungkiri kalau ada kesedihan yang tersirat di dalam hati dan pikiranku, but aku harus buang jauh-jauh hal itu. Aku masih memiliki kesempatan yang berharga untuk melakukan sesuatu dengan sebaik mungkin semampu aku. I won’t give up.
Alhamdulillah, aku sekarang sudah bekerja (meskipun masih tahap training) di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pengiriman dan logistik. Apakah sesuai dengan gelar di  ijazah terakhirku? Sama sekali tidak. 😁 Aku tidak tahu sama sekali bagaimana sistem kerjanya  meskipun aku sering berkunjung ke kantornya untuk melakukan pengiriman barang  dan disinilah kemampuan aku yang sesungguhnya diuji. Btw, awal masuk kerja itu rasanya nano-nano banget. Akan tetapi, aku mempunyai semangat yang tinggi. Aku bilang ke diri aku sendiri bahwa apa saja yang ada di kehidupan ini bisa dipelajari. Everything can be learn. Tidak ada kata gagal. Yang ada hanyalah aku sukses atau aku belajar. Aku harus benar-benar menjadi gelas yang kosong untuk bisa menerima ilmu yang aku dapat selama training. Akhirnya, lambat laun aku bisa memahami dan melakukannya. Apakah pernah membuat kesalahan? Of course, pernah. Akan tetapi bersyukur, karena aku diajari oleh orang-orang yang luar biasa baik dan sabar.
    Namun, sebuah dilemma menghampiriku. Orang-orang terdekatku menyarankan kepadaku untuk beralih ke profesi lain yang sesuai dengan bidangku dan tentunya ijazahku. Yeah, mereka menginginkan aku menjadi guru. Meskipun setelah pulang kerja aku langsung melakukan les private tapi itu mungkin belum cukup bagi mereka. Pikiran dan hatiku bergejolak. Bagaimana mungkin aku akan resign dari pekerjaan baruku ini yang belum ada 2 minggu? Apa kata orang-orang nanti? Apakah ini sebuah godaan ketika baru bekerja? Aku harus bagaimana?
Entahlah, aku juga bingung tapi bukan bingung yang teramat sangat. Mungkin, aku masih akan menjalani hari-hariku yang luar biasa ini, meskipun bagi mereka adalah hal yang biasa. Aku menikmati suka duka yang aku alami karena aku sangat bersyukur masih ada orang yang menerimaku berkerja dengan kondisiku yang seprti ini. Meskipun aku selalu berdoa agar beliau menerimaku bukan karena kasihan kepadaku tapi karena aku memiliki kemampuan.
Kala pertanyaan-pertanyaan itu menggelayut di pikiranku, aku mencoba untuk menepisnya dan berharap kepadaNya agar keputusan dan langkahku ini di ridhoi olehNya. Berharap semua yang aku lakukan kan bisa aku pertanggungjawabkan juga kan bernilai ibadah karena aku hanyalah seorang manusia biasa yang berharap bahwa aku hidup di dunia ini bisa membawa manfaat untuk diriku sendiri dan sekitarku. 
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar